136 Siswa SMAN 1 Tunjungan Blora Diduga Keracunan MBG, Tempe Ditaruh Depan Toilet SPPG
![]() |
| 136 siswa SMAN 1 Tunjungan diduga mengalami keracunan MBG. (Dok. Ist) |
PEWARTA JATENG — Sebanyak 136 siswa SMAN 1 Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (8/9/2026). Mereka dilaporkan mengalami lemas, diare, muntah, mual hingga pusing.
Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Blora kemudian memeriksa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2, Tunjungan, yang menjadi dapur penyedia makanan tersebut. Dalam pemeriksaan, ditemukan bahan makanan berupa tempe yang diletakkan di depan toilet SPPG.
Kepala Dinkesda Blora Edy Widayat menilai kondisi penyimpanan tersebut tidak sesuai dengan prosedur keamanan pangan. Tim surveilans, tenaga gizi, kesehatan lingkungan, dan laboratorium pun diterjunkan untuk memeriksa kondisi dapur.
Sampel makanan dikirim ke laboratorium
Edy mengatakan pemeriksaan dilakukan setelah pihaknya menerima laporan mengenai dugaan keracunan yang dialami penerima manfaat dari dapur SPPG Sukorejo 2.
"Pada awal penanganan kasus dan pendataan kasus yang terdampak dengan diduga keracunan dari dapur SPPG dan kami juga menurunkan tim dari surveilans, dari tenaga gizi, dari kesehatan lingkungan, dan dari laboratorium untuk langsung checking ke dapur," terang Edy, Kamis (10/9/2026).
Dinkesda Blora telah mengambil sejumlah sampel makanan dari SPPG tersebut untuk dikirim ke Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Pemeriksaan juga mencakup inspeksi kesehatan lingkungan dan keamanan makanan di dapur.
Edy menekankan bahwa keamanan pangan harus diperhatikan sejak bahan makanan dipilih hingga disimpan sebelum diolah dan dibagikan kepada penerima manfaat.
"Harapan kami, dapur-dapur yang beroperasional bukan hanya menyajikan makanan, tapi mulai dari pemilihan bahan makanan, cara penyimpanan bahan makanan yang kering, cara penyimpanan makanan basah, cara penyimpanan daging, ayam, dan lain-lain harus sesuai dengan prosedur. Karena, dari situlah berawal higiene makanan dan keamanan pangan dimulai," jelas dia.
Sebagai sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penyelenggaraan Program MBG Kabupaten Blora, Edy menyebut pihaknya telah membuat laporan sementara kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
Laporan tersebut disertai rekomendasi agar SPPG Sukorejo 2 ditutup permanen. Namun, keputusan penutupan berada di tangan BGN setelah hasil pemeriksaan laboratorium diterima.
"Langkah awal begitu ada keracunan kami membuat data awal, terus melakukan sidak, kami membuat laporan sementara ke BGN karena laporan akhir adalah setelah hasil lab turun. Kami buat laporan dan merekomendasikan untuk penutupan, dan penutupan memang wewenang dari BGN," kata dia.
SPPG tersebut sebelumnya juga disebut memiliki persoalan pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang berdampak terhadap lingkungan.
Hasil uji lab kasus Banyumas ditemukan bakteri
Kasus dugaan keracunan MBG juga terjadi di MAN 2 Banyumas pada Agustus 2026. Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dari kasus tersebut telah keluar.
Uji dilakukan oleh Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat dan Pengujian Alat Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Dari sampel menu ayam woku, ditemukan bakteri Bacillus cereus dan Escherichia coli.
Sebelumnya, pada 10 Agustus 2026, sebanyak 165 siswa MAN 2 Banyumas mengalami pusing, mual dan diare setelah mengonsumsi menu MBG. Sampel makanan yang dikonsumsi saat kejadian kemudian dikirim untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.
Humas MAN 2 Banyumas Muhammad Fahmi mengatakan pihak sekolah telah menerima hasil uji tersebut. Berdasarkan evaluasi dari SPPG terkait, terdapat kesalahan atau human error dalam proses pengolahan makanan.
"Dari SPPG terkait juga sudah menyampaikan hasil evaluasi, ada kesalahan atau human eror. Ada proses yang tidak sesuai, sehingga menimbulkan bakteri," kata Fahmi, Kamis (10/9/2026).
Pengiriman menu MBG ke MAN 2 Banyumas sementara dihentikan sejak kejadian pada 10 Agustus 2026. Sekolah masih menunggu konfirmasi serta keputusan BGN mengenai kelanjutan program tersebut.
Koordinasi juga telah dilakukan dengan Kantor Kemenag setempat. Sekolah diarahkan mengikuti hasil uji laboratorium dan keputusan BGN.
"Belum ada keputusan dari pihak BGN, dihentikan atau bagaimana, itu urusan di sana. Kami hanya pelaksana, kalau jalan lagi, ya kami ikuti saja," ujarnya.
Fahmi mengatakan sekolah tidak akan memaksakan siswa maupun orang tua untuk kembali menerima program MBG. Pihaknya berencana melakukan polling untuk mengetahui siapa yang bersedia dan tidak bersedia menerima makanan tersebut.
Menurut Fahmi, pilihan tersebut juga mempertimbangkan kemungkinan masih adanya orang tua atau siswa yang mengalami trauma setelah kejadian sebelumnya. Hasil uji laboratorium akan disampaikan kepada orang tua melalui komite sekolah dalam rapat pleno.
"Hasil uji lab ini juga akan kami sampaikan ke orangtua melalui komite sekolah. Besok (hari ini—Red) akan ada rapat pleno dan akan kami sampaikan," jelasnya.
