Polda Jateng Bantu Penanganan 87 Anak dengan Kelainan Bentuk Kaki Sejak Lahir melalui Terapi CTEV
![]() |
| Polda Jateng memberikan penanganan terapi CTEV kepada anak dengan kelainan bentuk kaki sejak lahir melalui layanan gratis. (Dok. Ist) |
PEWARTA JATENG — Polda Jawa Tengah membantu penanganan 87 anak yang mengalami kelainan bentuk kaki sejak lahir melalui layanan terapi Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) secara gratis.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya pelayanan kesehatan yang melibatkan Polda Jateng bersama jajaran Polres, Dinas Kesehatan Jawa Tengah, serta Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Muhammadiyah.
Dari puluhan anak yang mendapatkan penanganan, sebanyak tujuh pasien dibawa ke RS Bhayangkara Semarang untuk menjalani assessment, tindakan medis, hingga pemeriksaan lanjutan berupa pengecekan gips kedua.
Seluruh rangkaian penanganan diberikan tanpa biaya. Program ini menyasar anak-anak yang membutuhkan akses pengobatan, termasuk keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
Dalam pelaksanaannya, Bhabinkamtibmas turut membantu menemukan anak-anak yang memiliki kelainan bentuk kaki sejak lahir di wilayah masing-masing untuk kemudian diarahkan memperoleh penanganan medis.
Dukungan juga diberikan Muhammadiyah melalui penyediaan sepatu brace yang digunakan dalam tahapan perawatan. Sementara kebutuhan gips disebut dapat ditanggung melalui BPJS atau anggaran pelayanan kesehatan rumah sakit sesuai mekanisme yang berlaku.
Dokter Randy Presly Octavianus menjelaskan bahwa CTEV merupakan kondisi kelainan bentuk kaki yang sudah ada sejak lahir. Penanganan sedini mungkin diperlukan agar kondisi tersebut dapat dikoreksi dengan hasil yang lebih baik.
Menurut dia, terapi CTEV dilakukan melalui tahapan penanganan yang membutuhkan evaluasi dan keterlibatan orang tua. Salah satu metode yang digunakan adalah pemasangan gips secara bertahap untuk membantu mengarahkan posisi kaki.
Keberhasilan terapi juga tidak hanya bergantung pada tindakan medis di rumah sakit. Setelah tahapan tertentu selesai, anak tetap membutuhkan perhatian dan dukungan orang tua agar hasil terapi dapat dipertahankan.
Karena itu, deteksi dan rujukan sejak dini menjadi bagian penting dalam penanganan anak dengan kondisi tersebut. Semakin cepat mendapat penanganan, semakin besar peluang koreksi dapat dilakukan secara optimal.
Program pelayanan kesehatan ini juga membuka akses bagi keluarga yang sebelumnya mungkin menghadapi keterbatasan dalam memperoleh pengobatan. Dengan melibatkan jaringan kepolisian hingga tingkat wilayah, pencarian kasus dapat dilakukan lebih dekat dengan masyarakat.
Salah satu keluarga yang merasakan manfaat layanan tersebut adalah Abdul Gofar, yang membawa putrinya, Aida, untuk mendapatkan penanganan. Aida diketahui masih berusia 17 bulan saat menjalani terapi.
Pendampingan terhadap pasien seperti Aida menjadi bagian dari tujuan program agar anak-anak dengan kelainan bentuk kaki sejak lahir dapat memperoleh kesempatan mendapatkan terapi sesuai kebutuhan medisnya.
Selain memberikan tindakan secara gratis, kolaborasi berbagai pihak dalam program tersebut juga diarahkan untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan berkelanjutan. Dukungan keluarga menjadi salah satu unsur penting selama proses terapi berlangsung.
Polda Jateng berharap layanan semacam ini dapat membantu lebih banyak anak memperoleh akses terhadap penanganan sejak dini. Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat pelayanan kesehatan yang menjangkau masyarakat hingga tingkat daerah.
Melalui sinergi antara kepolisian, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, dan keluarga pasien, penanganan CTEV diharapkan dapat berlangsung secara lebih terarah dan berkesinambungan.
