GP Ansor Jateng Perkuat Literasi Digital, Waspadai Phishing hingga Penyalahgunaan Data
![]() |
| Kegiatan Literasi Digital dan Workshop Cyber Security digelar di Pondok Pesantren Ash-Shodiqiyah Semarang. (Dok. Ist) |
PEWARTA JATENG — Ancaman kejahatan siber yang terus berkembang menjadi perhatian Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah yang mendorong penguatan literasi digital bagi kader dan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Literasi Digital dan Workshop Cyber Security yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital bersama PW GP Ansor Jawa Tengah serta Garuda Spark di Pondok Pesantren Ash-Shodiqiyah, Semarang, Jumat, 18 September 2026.
Forum tersebut membahas sejumlah risiko yang semakin sering ditemui pengguna internet, mulai dari phishing dan penipuan daring hingga pencurian data pribadi serta penyalahgunaan identitas digital.
Kader didorong memahami risiko ruang digital
Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah Dr H M Shidqon Prabowo mengatakan perkembangan teknologi perlu diikuti kemampuan masyarakat untuk menjaga keamanan saat menggunakan ruang digital.
Menurut Shidqon, kader Ansor tidak cukup hanya mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga perlu memahami ancaman yang muncul seiring semakin luasnya penggunaan internet.
“GP Ansor Jawa Tengah ingin melahirkan kader yang tidak hanya kuat secara ideologis, tetapi juga tangguh menghadapi tantangan digital,” ujar pria yang akrab disapa Shidqon.
Ia menilai edukasi mengenai keamanan digital diperlukan agar kader dan masyarakat dapat lebih waspada serta tidak mudah menjadi korban berbagai modus kejahatan siber.
Phishing terus berkembang karena motif ekonomi
Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia Prof. Yudho Giri Sucahyo menjelaskan bahwa perkembangan kejahatan siber, termasuk phishing, tidak terlepas dari motif ekonomi.
“Misalnya, kita basmi 1.000, pasti muncul 2.000 dan semakin berkembang,” kata Yudho.
Menurut Yudho, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan kejahatan siber tidak dapat hanya mengandalkan penindakan. Pengguna internet juga perlu dibekali pengetahuan agar mampu mengenali modus penipuan dan mengambil langkah pencegahan.
Phishing merupakan modus untuk memperoleh informasi sensitif seperti username, password, atau data kartu kredit dengan menyamar sebagai pihak yang dipercaya. Pelaku juga dapat memanfaatkan malware maupun situs palsu untuk mencuri kredensial korban.
Data Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) yang tercatat pada kuartal III 2022 menunjukkan terdapat 7.988 serangan phishing pada domain .id dengan 181 situs unik yang digunakan dalam serangan tersebut.
Perlindungan data pribadi ikut menjadi sorotan
Anggota Komisi A DPRD Jawa Tengah Tita Soewarto menyoroti persoalan keamanan identitas digital dan perlindungan data pribadi.
Menurut Tita, sistem yang terlalu bergantung pada username dan password, ditambah penyebaran data pribadi di banyak platform, dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan.
“Sistem yang terlalu bergantung pada username, password serta penyebaran data pribadi di banyak platform dapat memperbesar risiko penyalahgunaan,” tuturnya.
Karena itu, penguatan mekanisme identitas digital dinilai penting untuk membangun ekosistem digital yang lebih aman, terutama dalam memastikan proses pembuktian, autentikasi, dan otorisasi identitas berjalan dengan baik.
“Terutama untuk memastikan proses pembuktian, autentikasi dan otorisasi identitas berjalan dengan baik,” tegasnya.
Regulasi juga harus mengikuti perkembangan platform digital
Komisioner KPID Jawa Tengah M Nur Huda menyoroti tantangan lain yang muncul dari perubahan pola konsumsi informasi masyarakat di tengah pesatnya perkembangan platform digital.
Menurut Huda, lembaga penyiaran perlu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat. Ia sebelumnya menegaskan bahwa inovasi program siaran menjadi kebutuhan bagi lembaga penyiaran agar tetap mampu mengikuti perubahan tersebut.
“Inovasi program siaran merupakan hal mutlak bagi lembaga penyiaran di tengah gempuran arus informasi melalui teknologi digital. Kalau tidak mau beradaptasi ya akan ditinggal,” kata Huda.
Perkembangan platform digital juga berkaitan dengan persoalan regulasi, termasuk kebebasan pers, pengawasan konten, kewenangan lembaga penyiaran, dan posisi platform digital.
Karena itu, pengawasan terhadap konten di ruang digital dinilai membutuhkan pendekatan yang dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.
Masyarakat diingatkan menjaga data dan kredensial
Kepala Diskomdigi Jawa Tengah Lilik Henry turut menekankan pentingnya kecakapan digital dalam menghadapi perubahan teknologi dan ancaman keamanan siber.
Literasi digital dalam konteks tersebut tidak berhenti pada kemampuan mengoperasikan perangkat atau aplikasi. Pengguna internet juga perlu mampu mengenali informasi mencurigakan, memeriksa alamat situs, menjaga data pribadi, serta tidak memberikan kode OTP, password, dan informasi finansial secara sembarangan.
"Masyarakay diharapkan mampu memanfaatkan teknologi untuk aktivitas positif sekaligus memiliki kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan dan kejahatan siber yang semakin berkembang," ungkap Lilik.
Melalui kegiatan tersebut, PW GP Ansor Jateng mendorong kader dan masyarakat menjadi pengguna teknologi yang lebih aktif sekaligus waspada. Kemampuan mengenali penipuan, melindungi identitas, dan menjaga data pribadi menjadi bagian penting dari kecakapan digital di tengah berkembangnya ancaman siber.
